cerita sex foto bugil Mesum Dengan Cewek Dua Kembar

1420 views

cerita sex foto bugil Mesum Dengan Cewek Dua Kembar  atas wanita Dua Kembar-Seperti perihalnya petang itu, kala saya anyar berbalik kuliah, kulihat kamar Evi terbuka tapi enggak terdapat orang didalamnya. karna keadaan kost yang antap akupun masuk ke kamarnya serta mengikuti terdapat yang lagi mandi serta akupun mengisolasi pintu kamar Evi. telah sepekan lebih saya menginap di Denpasar karna lagi eksamen akhir.

Cerita Mesum Dengan Cewek Dua Kembar
 Cerita Mesum Dengan Cewek Dua Kembar

 

sehabis pintu kututup, kupanggil Evi yang terdapat dikamar mandi.

Vi, lagi mandi yah? tanyaku adat.

enggak terdapat balasan dari dalam kamar mandi. Akupun meneruskan.

anda marah yah Vi ?, ampun yah saya tak kasih ingat anda kalau saya ingin nginep di Denpasar. Hari ini saya ingin bikin anda senang Vi. saya bakal mencucup anda, buat anda senang hari ini. saya bakal.
Mandi kucing kan anda Vi mulai dari pucuk rambut sampai pucuk kaki. Rayuku.

lagi enggak terdapat balasan dari dalam kamar mandi.

Vi, ingat film yang dulu anda menonton melihat kan. saya bakal buat anda senang sebagian kali hari ini sebelum anda rasakan penisku ini Vi. saya bakal mencucup vaginamu hingga anda menggelinjang senang serta berharap biar saya memuatkan penisku.

dapat didengar suara batu berdahak minim dari dalam kamar mandi.

Vi, kututup pintu serta gordennya yah Vi. Akupun berbelok serta mengisolasi perdah jendela yang benar lagi terbuka.

kala perdah kututup, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun mesem serta berteriak-teriak dalam batin. sehabis saya mengisolasi perdah akupun berbelok. serta nyatanya, yang terdapat dalam kamar mandi itu ialah Silvi, abang Evi, yang anyar aja beres mandi pergi atas memakai bathrope berona pink serta bersandar diatas lokasi tidur atas kaki bersilangan serta kelihatan dari bagian bathropenya.

Kaki yang putih terawat, betisnya yang bagus kelihatan lalu sampai ke pahanya yang putih, cepat serta sensual amat menantang sekali buat dielus. Belum lagi silangan bathrope di dadanya kira-kira kebawah alhasil kelihatan dada putih serta bagian payudaranya. Kukira skala Branya sedikit lebih besar dari Evi, karna saya belum sempat menyentuhnya.

Evi lagi ke Yogya, beliau lagi Praktek kegiatan selagi 2 bulan tutur Silvi dengan memainkan benang bathrope-nya.
Jadi selagi ini anda senang make love betul serupa Evi, sedangkan saya yakin anda enggak bakal sedemikian itu serupa adikku
ampun Mbak, saya tak ingat kalau yang didalam itu Mbak Silvi Kataku dengan mataku memandang muka Silvi.

Rambutnya yang hitam sepundak berburai berair. Dada yang putih atas bagian yang kelihatan cukup dalam. pukang yang putih bagus serta cepat sampai betis yang terawat rapih. bila menurutku Silvi bisa memperoleh nilai 8 sampai 8, 5.

kemudian kalau enggak Mbak mengapa ?, anda tidak ingin mengesun Mbak, bikin Mbak senang, memandikucingkan Mbak serupa yang anda bilang mulanya? pertanyaan Silvi memancingku.
saya sih ingin saja Mbak kalau Mbak kasih Jawabku langsung tanpa pikir lagi dengan berjalan ke lokasi tidur. karna selaku pria biasa saya telah enggak tangguh menahan nafsuku memandang sesosok perempuan cantik yang nyaris tentu bugil karna anyar beres mandi. Belum lagi pandangan dada serta putih bagus yang amat menggoda.
anda telah lamban make love atas Evi, Ren? pertanyaan Silvi kala saya bersandar di sisi kirinya. saya enggak langsung menanggapi, sehabis bersandar di sebelahnya saya mengesun harum enak badannya.
badan Mbak enak sekali, kataku dengan mengesun lehernya yang putih serta tahapan.

Silvi mengejai serta mendesau kala lehernya kucium, mulutku juga naik serta mengesun bibirnya yang alit serta merah merekah. Silvi juga membalas ciumanku atas hangatnya. perlahan-lahan kumasukkan lidahku ke dalam gerong mulutnya serta lidah kita juga saling beradu, keadaan itu membikin Silvi kian hangat.

Perlajan tangan kiriku menyelusup ke dalam bath robenya serta menyentuh payudaranya yang alot. dengan lalu berkecupan kuusap serta kupijat halus kedua payudaranya bergantian. Payudaranya juga kian memadat serta putingnyapun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya atas tanganku dengan lalu melumat bibirnya.

saya juga mengganti posisiku, kurebahkan badan Silvi di lokasi tidur dengan lalu melumat bibirnya serta menyentuh payudaranya. sehabis badan Silvi jatuh, perlahan-lahan mulutku juga turun ke lehernya serta tanganku juga menarik benang pengikat bathrope-nya. sehabis talinya terkupas kubuka bathropenya. saya berakhir mengesun lehernya sesaat buat memandang badan perempuan yang bakal kutiduri sesaat lagi, karna saya belum sempat badan Silvi tanpa sehelai kenur sedikitpun. benar pandangan yang bagus serta tanpa kekurangan sedikit juga.

Payudaranya yang putih serta berdiri menantang berdimensi 36 C atas puting yang telah naik amat memukau. Pinggang yang ramping karna perutnya yang minim. Bulu lembut yang tumbuh di sekeliling selangkangannya kelihatan apik, boleh jadi Silvi anyar aja melatas rambut kemaluannya. benar pandangan yang amat bagus.

Hh desau Silvi memadamkan lamunanku, saya juga langsung meneruskan kegiatanku yang mulanya kandas karna memuja-muja jamal badannya.

balik kulumat bingkai Silvi dengan tanganku mengelus payudaranya serta beroncet-roncet bersilir-silir turun ke perutnya. Ciumanku juga turun ke lehernya. Desahan Silvi juga kian dapat didengar. perlahan-lahan mulutku juga turun ke payudaranya serta menciumi payudaranya atas leluasanya. Payudaranya yang alot juga memadat kala saya mengesun sekitar payudaranya.

Tanganku yang lagi mengelus perutnya juga turun ke pahanya. berencana saya membarut-barut sekitar vaginanya dulu buat memancing akibat Silvi. kala tanganku mengelus pukang bagian dalamnya, kaki Silvi juga mendekat. lalu kuelus pukang Silvi sampai akibatnya perlahan-lahan tanganku juga ditarik oleh Silvi serta diarahkan ke vaginanya.

belai dong Ren, kendati Mbak ngerasa lezat Ren Ucapnya dengan mendesau.

bingkai faraj Silvi telah berair kala kesentuh. Kugesekan jariku sepanjang bingkai abaimana Silvi, serta Silvi juga mendesau. Tangannya meremas kepalaku yang lagi terletak di payudaranya.

Ahh, lalu Ren, Pinggulnya kian bergyang hebat searah atas terkaan tanganku yang kian lekas. Jari-jariku kumasukkan kedalam bolongan vaginanya yang semakn berair.
Ohh Ren lezat sekali Ren, desau Silvi kian hebat serta gegaran pinggulnya kian lekas.

Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit vagina Silvi. Kucoba masukan kedua jariku dan desahan serta goyangan Silvi makin hebat membuatku semakin terangsang.

“Ahh Ren”, Silvi pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya dan jariku masih terus mengobok-obok vaginanya Silvi yang sempit dan basah.

Remasan tangan Silvi di kepalaku semakin kencang, Silvi seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama Silvi pun melenguh panjang jepitan tangan dan kakinya pun mengendur.

Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan celana jeansku. Penisku sudah tegang sekali dan terasa tidak nyaman karena masih tertekan oleh celana jeansku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja kuubah posisi tidur Silvi. Semula seluruh badan Silvi ada di atas tempat tidur, Sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas tempat tidur, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah.

Dengan posisi ini aku bisa melihat vagina Silvi yang merah dan indah. Kuusap sesekali vaginannya, masih terasa basah. Akupun mulai menciumi vaginanya. Terasa lengket tapi harum sekali. Kukira Silvi selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.

“Ahh Ren, enak Ren”, racau Silvi. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang vaginanya. Vagina merahnya semakin basah oleh lendir vaginanya yang harum dan jilatanku. Desahan Silvi pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku kedalam bibit lubang vaginanya. Evi pun menggelinjang hebat.

“Terus Ren”, desahnya. Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tnagnku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati vaginanya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya oun bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan Silvi pun menalami orgasme yang kedua.

“Ahh Ren, aku keluar Ren”, aku pun merasakan cairan hangat yang keluar dari vaginanya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir Silvi yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.

Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat didepan vaginanya. Sambil terus menciumnya kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar CD ku ke bibir vaginanya. Tangan Silvi yang semula berada disamping bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.

“Besar juga punya kamu Ren, panjang lagi” Ucap Silvi di sela-sela ciuman kami.

Sambil masih berciuman aku melepaskan CDku sehingga tangan Silvi bisa leluasa mengocok penisku. Setelah lima menit akupun menepis tangan Silvi dan menggesekkan penisku dengan bibir vaginanya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.

Perlahan aku mulai mengarahkan penisku kedalam vaginanya. Ketika penisku mulai masuk, badan Silvi pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali tetapi nikmat. Lobang vaginanya lebih sempit dibandingkan Evi, atau mungkin karena lubang vaginanya belum terbiasa dengan penisku.

“Ahh Rensha.. Begitu sayang, enak sekali sayang” Racaunya ketika penisku bergerak maju mundur. Pinggul Silvi pun semakin liar bergoyang mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.

“Ahh..” desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku semakin cepat pula goyangan pinggul Silvi. Kaki Silvi yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas tempat tidur.

Setelah seluruh badan ada diatas tempat tidur, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku pun bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat.

Goyangan Silvi pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku di pantatnya. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat dan goyangan pinggul Silvi yang semakin liar.

“Ren.. Kamu hebat Ren.. Terus Ren.. Penis kamu besar keras dan panjang Ren.. Terus Ren.. Goyang lebih cepat lagi Ren..” begitu racau Silvi di sela kenikmatannya.

Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Vagina Slvi memang lebih enak dari Evi adiknya. Lebih sempit sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam vaginanya. Goyangan Silvi yang makin liar, desahan yang tidak beraturan membuatku semakin bernafsu dan mempercepat gerakanku.

“Mbak aku mau keluar Mbak” Kataku.
“Di dalam aja Ren biar enak” desah Silvi sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari vaginanya sedikitpun.
“Ahh” Desahku saat aku memuntahkan semua cairanku kedalam lubang rahimnya.

Tangan Silvi menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya pun terpejam. Aku pun mencium bibir Silvi. Dengan posisi badanku masih diatasnya dan penisku masih dalam vaginanya. Mata Silvi terbuka, dia membalas ciuman bibirku hingga cukup lama. Badannya basah oleh keringatnya dan juga keringatku.

“Kamu hebat Ren, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya” Kata Silvi.
“Mbak juga hebat, vagina Mbak sempit, legit dan harum lagi.” Ucapku.
“Memang vagina Evi enggak” senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.
“Sedikit lebih sempit Mbak punya dibanding Evi” jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Tampaknya Silvi masih ingin melanjutkan lagi pikirku.
“Penis kamu masih keras Ren?” tanya Silvi sambil memutar pinggulnya.
“Masih, Mbak masih mau lagi?” tanyaku
“Mau tapi Mbak diatas ya” Kata Silvi.
“Cabut dulu Ren”

Setelah dicabut, mulut Silvi pun bergerak dan mencium penisku, Silvi mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan vaginanya padaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan Silvi, vagina Silvi yang harum membuatku melupakan Evi sementara waktu.

Hari itu sejak pukul lima sore hingga esok paginya aku bercinta dengan Silvi, entah berapa kali kami orgasme. Dan itu pun berlangsung hampir setiap malam selama Evi belum kembali dari Praktek Kerjanya di yogya selama 2 bulan lebih. Kupikir mumpung Evi tidak ada kucumbu saja kakaknya dulu.

author
Author: